Masa Depan Anak, Masa Depan Keluarga, dan Masa Depan Bangsa -->

Masa Depan Anak, Masa Depan Keluarga, dan Masa Depan Bangsa

, Oktober 15, 2021

 

Ilustrasi: Islam2c.

Kita pernah menedengar bahwa apabila kita ingin melihat suatu bangsa, maka dilihat kondisi anakmudanya, bisa juga dibilang usia produktifnya, tetapi melihat negara dan bangsa ini–dilihat ke depan misalnya–dua puluh tahun lagi, dilihat dari dan dimulai anak- anak bangsa dan apa yang kita rencanakan 20 (dua puluh) tahun lagi.

 

Kita pasti merencanakan hal-hal yang baik, menyiapkan sebaik-baiknya dengan kekuatan yang kita miliki dalam sebuah keluarga. Namun, pernahkah kita mendidikdan melatih mereka dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang mereka lalui, masalah- masalah yang memproses mereka menjadi pribadi yang kuat serta bermanfaat bagi lingkungan tempat tinggal, masyarakat, dan bangsa.

 

Tentu kita selalu berusaha mengajarkan mereka hal-hal yang baik, terutama mengajarkan nilai-nilai agama. Bahkan, ada saatnya suatu hari nanti kita akan menyesal apabila anak yang kita harapkan jauh dari nilai-nilai agama, bahkan mereka tidak memercayai adanya Tuhan karena nasib yang tidak pernah berubah, tidak pernah merasakan keadilan.

 

Hal ini pernah terjadi pada satu anak jalanan di suatu rumah singgah anak Jalanan di bilangan daerah Jakarta Barat. Anak gelandangan yang terbiasa mencari uang di jalan dengan mengamen dan berjualan apa saja. Hidupnya begitu keras, untuk makan saja mereka harus berjuang, mana mungkin mereka berpikir untuk bermain dengan anak seusianya.

 

Suatu hari menjelang siang, anak ini sudah bosan dengan dinas sosial yang mengangkut mereka; tidak terbiasa diam diberi makan, diajari nilai-nilai pendidikan, membuatmereka bosan dan tidak bisa beradaptasi. Pilihan bagi mereka adalah kembali ke terminal, kembali ke jalanan dan hidup bebas bagai burung yang keluar dari dalam sangkar untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Hal yang mereka inginkan bukan hal yang jauh dipikirkan oleh seorang anak,misalnya ada yang ingin membeli tempat tidur spring bed misalnya, atau ingin membeli baju baru dan sarung untuk sholat Ied, karena apa yang merekaharapkan itu harus dengan cara mereka, itulah yang menjadi alasan tertentu mengapa mereka lari dari Dinas Sosial Anak.

 

Hal ini terjadi pada seorang anak yangtidak diberi tahu siapa namanya, dia tidak pernah percaya bahwa Tuhan itu ada, bagi anak jalanan itu Tuhan tidaklah nyata, Tuhan itu terlalu jauh. Jikalau Tuhan ada, kenapa orang tuanya meninggal. Jikalau Tuhan itu ada, kenapa hidup saya begitu susah, keras,dan penuh dengan air mata seperti saat itu. Malam takbiran, anak tersebut berkata dalam hatinya, “Kalau Tuhan itu ada, saya sekarang di penjara dinas sosial, saya minta apa yang saya doakan, sarung, baju, celana baru, dan handuk.” Di tempat lain, ini jelas kisah nyata, ada orang yang tiba-tiba digerakkan untuk membawa semuanya sesuai permintaan doa anak tersebut, orang tersebut sepertiselalu diingatkan terus-menerus oleh si penjaga rumah singgah, yang biasa dia ditemui di daerah Jakarta Barat. Mereka sudah lama tidak bertemu, benar malam itumalam takbiran, dan anak tersebut menerima jawaban doanya dengan airmata ... benar, bahwa Tuhan itu ada. Tuhan itu nyata, cepat atau lambat Dia menjawab. Pada hari itu juga cara berpikir anak tersebut sudah berubah.

 

Dari kisah nyata di atas, tentu negara sudah melakukan tugasnya, bahwa anak--anak terlantar dipelihara oleh negara, fungsinya sudah berjalan, tetapi fungsi keluarga jelas belum berjalan, fungsi lingkungan di mana sebenarnya anak tersebut berawal. Di sinilah dibutuhkan koordinasi antara pribadi, keluarga, lingkungan dan setiap orang dalam melakukan fungisnya masing masing terhadap kepekaan sosial.

 

Apabila dilihat dari sosiologi, anak tersebut menyelesaikan masalah hanyaberdasarkan pola pikir sesaat, dan yang dia pikirkan bukanlah ke depan, bukan dia harus sehat, kuat maupun tekun belajar. Bagi mereka, toh penjahat saja tidak sekolah tetapi mempunyai uang banyak, yang dia lihat menjadi contoh dan suri tauladan bagi mereka, karena sifat alami anak-anak memang meniru.

 

Kerusuhan Mei tahun 1998 di wilayah Jakarta Barat banyak berdampak pada kehidupan, bukan saja nilai ekonomi yang merosot, tetapi kesusahan di segala bidang, itu menyebabkan kepercayaan orang akan Tuhan-Nya diuji dari segala lapisan masyarakat, mulai dari kecil sampai dengan yang tua. Saat ini pun banyak terjadi perubahan, dalam arti adanya social control untuk kembali membangun daerah itu serta membangun manusianya secara jiwa dan mental tampa disertai rasa takut, karena dampak yang dialamai bukan saja karena adanya tangki minyak meledak tetapi juga dampak secara mental dan kepercayaan akan Tuhan.

 

Namun saat ini, pribadi lepas pribadi, pemda, dinas sosial, tokoh masyarakat dari berbagai suku, dan tokoh agama mejadi pelakasana serta kontrol sosial terhadap keluarga terhadap jejaring untuk saling membangun dan bekerja sama. Dari sini jelaslah paradigma setiap anak di wilayah tersebut diubahkan, setelah dua puluh tahun kemudian, daerah tersebut mengalami perubahan tahun 2021. Apa yang kita tabur dengan airmata, tidak akan pernah gagal karena kita percaya apa yang kita lakukan merupakan bagian dari manusia, Tuhan melakukan cara-Nya yang Ajaib. Keresahan sosial dalam bentuk kejahatan pada anak usia dini, misalnya perampasan, pengeroyokan yang membuat resah pasti ada, dan tetap ada, tetapi jumlah keresahan dan konflik sosial tersebut dapat diatasi, anak anak yang terlantar dapat dihitung dengan tangan pun masih ada, tetapi tidak menjadi masalah sosial, tidak mengakibatkan keresahan pada tahun-tahun selanjutnya, tidak mengakibatkan keresahan nasional, dan masih dapat cepat ditangani dan dikontrol.

 

Saat ini, saya belum bisa berbuat banyak, di mana domisili saya berbeda permasalahannya dengan wilayah Jakarta Barat. Namun saya percaya, elemen masyarakat akan mulai bergotong-royong dengan baik, sebab setiap daerah berbeda masalah dan pemecahannya, dibutuhkan sentuhan tangan lembut di daerah ini, dibutuhkan belas kasihan yang membuat setiap tindakan antipemerintah dapat diatasi. Mengerti bukanlah sepaham dengan mereka, memahami bukan berarti kita membiarkan sikap perlakuan mereka, tetapi menarik mereka keluar dari setiap masalah, membuat mereka kuat, berkarakter dengan nilai-nilai tanpa brutalisme.

 

Apa pun yang kita tabur akan kita tuai, bahkan untuk anak bangsa, generasi ke depan, nasib bangsa dua puluh tahun mendatang. Almarhum Gus Dur pernah menjadi Bapak Bangsa, matanya memang buta, tetapi mata hatinya terbuka. Elemen masyarakat mengalamikekecewaan ketika orde baru sosok “Bapak Bangsa” tergantikan, saya tidak akan membahas Almarhum Gus Dur, tetapi sosok anak bangsa membutuhkan tangan dan hati sosok “Bapak Bangsa” di Negeri Kesatuan Negara Republik Indonesia ini.


Kontributor: Evelin

Editor: Mega

TerPopuler

close