Senandika | Aku, Siapa? -->

Senandika | Aku, Siapa?

, September 10, 2021

 

Omahliterasi.

Oleh: Musaafiroh El Uluum


Aku ada, tak nyata, dan hanya hidup di belantara maya. Boleh jadi aku memang tak ada. Namun orang-orang menyangkalnya. “Kau ada, kau ada”. Begitulah kata mereka yang sempat menangkap bayangan nyataku. Benarkah? Aku hanya melirihkan pertanyaan-pertanyaan yang terus menggema, di benak, di telinga, bahkan di jalan-jalan yang sering kulewati setiap pagi dan senja.

 

Aku tetap dalam pekerjaanku, berjibaku dengan kalimat, memetik tuah kisah, lalu menyemayamkannya pada memoar-memoar yang menguras air mata.

 

Benar, aku memang ada, katanya. Mendekap kata, memasung duka, menggenapkan karsa, dan berbagi rahsa kepada orang terdekat saja. Dalam kungkungan yang tercipta dengan sendirinya, aku wirang. Aku sangat segan, pada netra-netra penuh kama, anggukan ‘mari’ yang lena, dan genggaman erat penuh harsa.

 

Dalam kesenjangan yang tersanjung nyata, aku menasibi kenisbian yang seolah menyuguhkan kemutlakan. Iya, kenyataan di mana seorang aku harus menetapi apa yang telah disangkakan. Aku yang entah sejak kapan memperoleh kepercayaan yang tak pernah kuinginkan. Fine, aku diam.

 

Namun, tiba-tiba aku menyandang titel buruk oleh karena prasangka yang mereka berikan sendiri. Aku tak gamang, tak berontak, apalagi membuang muka. Hanya saja, aku lelah. Menerima prasangka demi prasangka yang tak pernah sejalan dengan realita, tergesa-gesa menilai, dan acapkali menghina. Padahal, air belum tentu beriak, buih susu tak statis di pinggiran gelas, dan tak selamanya serigala berbulu domba.

 

Lalu, aku pun memahami, aku tak benar-benar ada. Ego yang ada. Asumsi-asumsi membangun perilaku pada realita, lalu menciptakan jati diri seorang aku di mata mereka. Dan aku tak pernah nyata.


Gresik, 10 September 2021

TerPopuler

close