Puisi | Aku ingin Pulang -->

Puisi | Aku ingin Pulang

, September 10, 2021

Omahliterasi.

Oleh: Titik Damayanti


SEPTEMBER


Pada pertengahan September lalu

Kerap kali aku ingin memastikan

Apakah aku sedang bermimpi atau hanya sekadar berangan

Ada senyum manis yang menawariku sebuah boncengan penuh kerinduan.


Yaa ...

Mungkin aku sedang bermimpi

Atau sedang membayangkan tempat berteduh paling jauh

Tapi tidak ...

Ttu bukan mimpi.


Lima belas September 2020

Hari paling tak terduga

Entah aku bermimpi apa

Tapi aku menemukan pelangi di sana ....


September, 2021


GUNTUR DI DALAM RUMAH


Tepat 20 tahun lamanya aku tertawa

Kini, hari ini, tepat hari ini

Tawa itu menjadi hujan lebat dengan guntur hebat

Berakhir di pusara paling tengah.


Baru saja siang kemarin aku memintamu untuk tidur dengan tenang

Tapi tepat jam 2 siang kau tak berikan senyuman lagi untukku

Semuanya berbalik menjadi air mata yang berlinang.


Panik ...

Itu pasti ...

Kocar-kacir bak burung kehilangan sarangnya

Lantas ambulance melaju dengan kencang

Berharap komamu segera terlewatkan

Seperti hujan lebat,

reda setelah awan hitam menghilang


Tepat 10 hari terkapar dengan obat-obatan

Awalnya kukira itu kabar gembira

Angin sejuk melewati telinga dan mataku.


Tapi tidak ...

Kau tahu tujuh hari setelah itu?

Tepat pukul 14:13

Hujan badai kembali datang, Kawan.


September, 2021


AKU INGIN PULANG


Aku ingin pulang, Bu. Menikmati sayur kelor buatanmu. Atau pepes tahu tempe masakan terakhir dari tanganmu. Pulang ke rumahmu. Rumah yang selalu hangat dengan senyuman dan pelukanmu. Rumah yang bahagia hanya dengan rebusan atau bakaran singkong di kebun. Rumah yang damai dengan rindangnya nasehat-nasehatmu yang banyak maknanya.


Aku ingin pulang, Bu. Tidur di pangkuanmu di depan dipan rumah kita. Mengisi air di drum bersama-sama saat hujan tiba. Lalu menikmati petrikor bersama setelah dia pulang. Atau sekadar menikmati syahdunya malam dan makan bersama-sama di bawah remang-remangnya lampu pelita.


Aku ingin pulang, Bu. Menyaksikanmu tertawa tipis di depanku karena geli dengan ciumanku yang mendarat di pipi dan keningmu. Lalu kau mulai mencubit hidungku. Aku rindu meminum teh buatanmu sepulang kuliah. Menikmati makanan yang kausiapkan saat aku baru saja pulang dan merasa letih.


Aku ingin pulang, Bu. Buatku jarak Surabaya-Gresik bukanlah apa-apa. Aku hanya ingin menikmati masakanmu yang lezat lagi. Sembari memintamu menyuapiku dengan tangan ajaibmu. Aku rindu, Bu. Aku rindu dengan rumah yang ramai dengan cintamu.


September, 2021

TerPopuler

close