Lafaz Basmalah, Kenapa Menggunakan Jumlah Ismiyyah? -->

Lafaz Basmalah, Kenapa Menggunakan Jumlah Ismiyyah?

, September 12, 2021

Syaaq/omahliterasi.


Dalam bahasa Indonesia ada yang namanya “subjek”, ada yang namanya “predikat”, dalam “Bismillahirrohmanirrohim” ketika diterjemahkan, yakni “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang”, di sini subjeknya tidak ada, predikatnya juga tidak ada. Ketika tiba-tiba ada orang datang dan mengatakan, “Assalamu’alaikum, saya mau minta waktu sebentar. Saya mau bicara. Hadirin sekalian, dengan naik motor warna hitam, nomor polisi bla bla bla. Terima kasih.” Apa makna itu? Atau dengan ditambah lagi, “Dengan motor warna merah, merek honda, nomor polisi sekian, yang bannya pecah, di jalanan.” Dan hanya mengatakan itu saja, selesai. Apa ini artinya? Yakni tidak jelas. Walaupun panjang, banyak keterangan, tetapi yang diterangkan tidak ada, maka tidak bisa dipahami kalimat itu.


“Dengan nama Allah yang maha pengasih maha penyayang.” Apa itu nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang? Siapa? Di mana? Apa? Tidak jelas. Namun “Bismillahirrohmanirrohim” sudah sempurna, yang tidak sempurna adalah terjemahannya. Lalu bagaimana agar terjemahan sempurna? Maka perlulah belajar ilmu Balaghah.


Ketika susunan kalimat dalam Al-Qur'an, yakni keterangan panjang, waktu, tempat, kemudian yang lainnya, lalu mubtada’ dan khobarnya tidak diangkat, musnad dan musnad ilaihnya tidak dimunculkan, Ulama’ Balaghah mengatakan bahwa itu memberi makna “Hadzfu huna litta’miim.” Tidak dimunculkannya secara redaksi memberi makna bahwa keterangan ini untuk menerangkan segala kehidupan kita. Sehingga ketika membaca Al-Qur'an ditemukan kata keterangan yang diterangkannya tidak jelas itu karena bukan untuk masalah tertentu, tetapi untuk berbagai masalah yang tidak dibatasi. Berarti “Bismillahirrohmanirrohim” ini meliputi berbagai aktivitas muslimin yang memiliki nikmat iman, niat untuk beribadah.


Ahli bahasa mengatakan makna basmalah adalah “ibtida’i bismillahirrohmanirrohim” atau bisa juga “abtadi’u bismilahirohmanirohim”, kalau seperti ini berarti basmalah cuma permulaan saja, dan di akhir sudah tidak bismillah lagi. Itulah kenapa Allah tidak menyebut mubtada’-khobar, tidak menyebut fi’il-fa’il, tetapi hanya menyebut keterangan saja agar meliputi semua aspek kehidupan kita.


Arrahmaanirrohim” dari akar kata yang sama, yakni ro, kha’, dan mim. Wazan pada “Rohman” seperti ghodhban (marah), ‘atsyan (haus), jau’an (lapar). Adakah orang yang sejak lahir marah terus-menerus? Atau haus terus? Lapar terus? Pasti tidak. Berarti sifat yang dimasukkan wazan “Fa’laan” tidak selamanya. “Farhaan”(bahagia), sedang tidur pun sama saja dengan yang tidak bahagia. Tidak ada orang yang bahagia ketika tidur senyum terus-menerus. Pada kata “ar-Rahman” ini Allah pilih untuk mensifati diri-Nya sendiri. Yang memiliki makan bahwa Allah mencurahkan karunia kepada siapa yang ia kehendaki tanpa pandang bulu, tetapi wazan ini bermakna untuk sementara (hanya di dunia).


Sedangkan “ar-Rahiim”, misal juga Allah memiliki sifat ‘alim, kariim, atau untuk manusia biasa dengan sifat thawiil (tinggi), qashiir (pendek), kabiir (besar). Orang tinggi berubah-ubah atau tidak? Pasti tidak. Allah tetapkan sifat “ar-Rahim” sebagai diri-Nya sendiri. Ini memberi makna bahwa di samping rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, Dia curahkan untuk sementara kepada semua makhluk entah itu taat ataupun maksiat (sumber dari sifat ar-Rahman), sementara ar-Rahiim adalah rahmat Allah yang tercurah untuk selama-lamanya, ini khusus untuk orang-orang mendapat hidayah-Nya, ampunan-Nya, rahmat-Nya, dan ridho-Nya.


Maka dengan kalimat “Bismillahirrohmanirrohim” kita dituntut untuk senantiasa ingat bahwa kita berjalan, berfikir, bergerak, makan, minum, tidur, dan lain sebagainya, di dunia ini, adalah menunjukkan adanya Allah ar-Rahman, dan kita jadikan bekal untuk meraih rahmat dari Allah ar-Rahiim. Allah ar-Rahaman, Allah ar-Rahim, itu tidak memakai kata sambung. Jika ada kata sambung maka menjadi “Bismillahi arrohmani warrrohimi”, bermakna bahwa ar-Rahman bukan ar-Rohim. Jadi harus disambungkan. Bisa memberi makna, Allah ada yang ar-Rahman, ada yang ar-Rahim. Dan ini berbahaya. Maka tidak menggunakan wawu, karena ar-Rahman adalah ar-Rahim juga. Ar-Rahman ar-Rahim adalah Allah subhanahu wata’ala. ~ Dr. KH. Arrazy Hasyim, M.A.~


Penulis: Syafiqah Nur Khalis

TerPopuler

close