Cerpen | Kamera Misterius -->

Cerpen | Kamera Misterius

, September 10, 2021


Ilustrasi: Tirto.id.


Oleh: Adilia Hadiyanti Kusuma


Hai, namaku Ica. Aku berasal dari keluarga sederhana. Hidupku hanya berdua bersama ibu yang menyayangiku sejak kecil, ayahku telah lama tiada. Ibuku seorang pedagang, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku selalu membantu ibu untuk membawakan barang dagangannya ke toko dan sambil membawa tas supaya aku langsung menuju ke sekolah. Aku bersyukur memiliki ibu seperti beliau, yang sabar dan sangat menyayangiku. Lusa akan ada acara sekolah, yaitu rekreasi ke Bali, dan uang harus sudah terkoordinir besok. Aku telah menyampaikan hal itu kepada ibu dan ibu menjanjikanku untuk memberi uang rekreasi hari ini.

 

“Ibu ... Ibu ngga lupa, kan sama janji ibu?” tanyaku tiba-tiba.

 

“Oh ... itu uang rekreasi? Yaudah, tunggu dulu, Ibu ambilkan sebentar.”

 

Aku bahagia karena mendapat restu dari ibu untuk rekreasi ke Bali, aku tidak menyangka bahwa aku bisa ikut karena untuk ikut rekreasi ke Bali ini membutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku pun pamit sekolah kepada ibu. Ibu juga mengingatkanku supaya hati-hati membawa uang rekreasi itu, karena uang tersebut adalah hasil kerja keras ibu ditambah uang tabungannya. Sesampai di sekolah, aku ingin segera mengumpulkannya ke Bu Dwi (guru yang mengoordinir) karena besok sudah hari terakhir pengumpulan uang. Namun, Bu Dwi sangat sibuk dan tidak bisa diganggu. Dengan terpaksa aku memilih untuk membayarnya nanti saja, saat bel istirahat.

 

Teman-temanku tidak percaya bahwa aku juga bisa ikut rekreasi ke Bali. Padahal, mereka sangat yakin aku tidak akan bisa ikut karena mereka juga tahu aku tidak memiliki seorang ayah, dan ibuku hanyalah seorang pedagang biasa. Saat bel istirahat berbunyi, tiba-tiba perutku sangat sakit. Akhirnya, aku pergi ke toilet dahulu. Setelah selesai, aku langsung mencari Bu Dwi untuk membayar rekreasi.

 

Ternyata uang yang kutaruh di saku tadi pagi, mendadak tidak ada. Aku sangat panik dan malu karena sudah di hadapan Bu Dwi, akan tetapi uangku tiba-tiba hilang. Akhirnya aku mencoba untuk mencari di kelas, barangkali saja masih ada di sana. Namun, sudah hampir setengah jam aku mencari ke sana-kemari hingga taman, di sekitar kelas pun tidak ada. Guru yang akan mengajar di kelasku pun tiba-tiba bertanya, karena beliau heran melihat mukaku yang sangat panik.

 

“Ica ... ada yang bisa ibu bantu, Nak?”

 

“Tidak ada, Bu.”

 

Aku enggan menjelaskan ini semua ke orang lain, biarkan aku yang mencarinya sendiri. Akhirnya jam pelajaran pun berlanjut. Aku segera masuk kelas lagi dan berusaha untuk menenangkan diri walaupun aku terus memikirkan uang tersebut mengingat ibu yang susah payah mencari uang untukku rekreasi ke Bali. Tak lupa aku berdoa kepada Sang Kuasa supaya uangku tidak diambil orang lain. Aku mulai teringat bahwa aku tadi sempat ke toilet. Sehabis jam pelajaran, aku langsung mencoba mencari di toilet, barangkali masih ada.

 

Aku terkejut, ternyata benar ada di toilet di bagian dekat kaca. Aku sangat senang karena uang rekreasi berhasil kutemukan. Namun, seketika mataku tertuju pada kotak hitam yang berukuran kecil. Aku pun mendekati dan mengambil kotak hitam tersebut. Ternyata isinya adalah kamera. Aku masih ragu, mengapa kamera sebagus ini ada di toilet. Sekejap aku teringat bahwa sebentar lagi rekreasi ke Bali dan itu akan menjadi momen yang tak terlupakan serta perlu untuk diabadikan. Diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun, aku memasukkan kamera tersebut ke dalam tasku.

 

Dua hari kemudian, hari yang kunantikan telah tiba. Tidak sabar rasanya pergi ke Bali bersama teman-teman satu angkatan. Tak lupa, kamera yang aku temukan kemarin, aku bawa rekreasi. Sesampai di sana, teman-temanku bertanya-tanya tentang kamera yang kubawa. Mereka mengatakan kamera ini sangat bagus dan mereka meminta supaya berfoto bersamaku menggunakan kamera ini. Mereka sangat menikmati dan senang bisa berfoto di Bali dan melihat hasil foto yang sangat memuaskan. Setelah beberapa menit, aku ingin mencoba membidik pantai yang ada di sana. Namun, setiap kali aku akan membidik kamera, aku melihat dalam kamera tersebut ada sosok gadis perempuan yang wajahnya sangat pucat. Anehnya, jika aku melihat pantai tersebut dengan mataku sendiri, sosok perempuan itu tidaklah ada.

 

Aku pun mencoba lagi melihat pada tempat yang berbeda dari sebelumnya dengan kamera. Ternyata sosok perempuan berwajah pucat tersebut ada jika aku melihat dalam kamera, akan tetapi jika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, sosok tersebut tidaklah ada. Ini merupakan suatu keanehan yang pertama kali aku alami dalam hidupku. Setelah beberapa hari liburan di Bali, waktu pun terasa sangat cepat, waktunya kami kembali ke rumah masing-masing. Saat keesokan hari, masuk sekolah pun tiba. Akhirnya aku membawa kamera tersebut dan menceritakan kepada guru BK bahwa aku telah menemukan kamera tersebut di toilet sekolah.

 

Setelah dilihat dan diperiksa isi kamera tersebut, ternyata kamera itu menyimpan banyak sekali foto gadis. Aku pun melihat foto-fotonya bersama guru BK, aku tersadar bahwa foto gadis di kamera tersebut sama seperti sosok perempuan yang aku lihat saat menggunakan kamera tersebut di Bali waktu rekreasi. Aku menjelaskan semua yang kualami pada guru BK dan guru BK mengaku mengenal gadis tersebut. Guru BK menjelaskan kepadaku bahwa gadis tersebut memang pernah bersekolah di sini, tetapi dia telah meninggal dunia. Aku sangat terkejut dan hal ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Akhirnya guru BK berencana akan mengembalikan kamera itu pada keluarga gadis tersebut.


Gresik, 9 September 2021

TerPopuler

close