Cerpen | Prahara Hati Aisyah -->

Cerpen | Prahara Hati Aisyah

, September 10, 2021



Oleh: Masruroh Ar Rasyid


Hidup adalah bagaimana kita memperjuangkan sebuah harapan menjadi seribu kenyataan. Ya, benar. Namun tak adil rasanya ketika hanya ada satu harapan tetapi menuntut seribu kenyataan. Agaknya kita lupa bahwa dalam setiap satu harapan terdapat berjuta-juta pilu yang kita goyahkan. Sedangkan dalam seribu kenyataan juga belum tentu sesuai keinginan.


Bukankah hal ini sudah cukup sebanding? Mengapa demikian?


Menurut saya jawabannya adalah satu


الأجر بقدر تعب

"Artinya: besar kecilnya pahala seseorang tergantung jerih payahnya".


Wajar sekali ketika kita memperjuangkan sebuah harapan dengan susah payah dan pada akhirnya kita menuntut untuk seribu kenyataan.


Hal ini dirasakan oleh seorang wanita penghafal Al-Qur'an. Ketika dirinya berkeinginan untuk bercandar dan menghafal Al-Qur'an, banyak sekali lika-liku yang harus ia lalui. Dia adalah Aisyah Ramadani. Seorang wanita cantik yang terlahir dari keluarga biasa, berparas nan ayu.

 

Kecantikan Aisyah memang telah diakui oleh banyak orang. Bagaimana tidak, warna kulitnya putih bak susu, bibirnya mungil merah ibarat delima, hidung mancung ibarat pagar bagi kedua pipinya, badannya yang semampai tinggi ibarat model, pandangan tajam kedua bola matanya yang coklat juga menjadi sorotan bagi siapa pun yang melihatnya. Namun, hal tersebut tidak menjadikan Aisyah berbesar hati dikarenakan fitrahnya wanita adalah fitnah.


Bagaimana bisa?


Ketika wanita terlihat tampak sempurna bagi lawan jenisnya, hal tersebut justru akan lebih berbahaya baginya. Tidak bisa dipungkiri, terkadang Aisyah merasa kurang nyaman dengan beberapa mata yang menatap dengan curiga. Selayaknya wanita,  Aisyah juga ingin menjaga marwahnya sebagai muslimah.

 

Pada suatu hari, Allah membuka jalan untuknya, di mana pada saat itu Aisyah sedang berjalan beriringan dengan wanita yang menggunakan pakaian serba tertutup, tubuh wanita itu dibaluti pakaian yang longgar,, hijab yang panjang serta niqab yang ia gunakan tidak bisa menampakkan sedikit bagian wajahnya. Aisyah mulai tertarik dengan cara wanita itu berpakaian, saat berjalan beriringan, wanita itu jelas lebih terjaga dari pandangan mata lawan jenisnya.


Semenjak kejadian tersebut, Aisyah berpikir ingin bercadar. Namun keinginan keinginan Aisyah tidak disetujui oleh saudara-saudaranya. Dikarenakan menurut mereka memakai cadar bukanlah suatu trend.


Aisyah terus meyakinkan semua saudara-saudara dan ibunya bahwa dia memakai cadar bukan dikarenakan trend, melainkan ingin menjaga marwahnya sebagai wanita muslimah.


Oleh sebab Aisyah terus meminta izin kepada ibu dan semua saudaranya, akhirnya mereka mengizinkan Aisyah untuk bercadar.


Semenjak itulah Aisyah mulai menggunakan cadar. Tentu hal tersebut tidak mudah untuknya, dikarenakan ada beberapa pandangan yang tidak baik tertuju padanya baik itu hinaa,n cercaan, maupun gunjingan dari para tetangga lainnya.


Meski begitu, semua keluarga terus meyakinkannya bahwa selama apa yang ia lakukan sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis, maka hal tersebut tidak pernah salah.


Singkat cerita, setelah yang menggunakan cadar Allah membuka jalannya lebih mudah untuk menghafal Al-Qur'an, mulai dari masuk ke pesantren tahfidz Qur'an hingga ia belajar secara pribadi kepada ustazah yang telah mempunyai hafalan mutqin 30 juz.


Perjuangan Aisyah tidak hanya sampai di situ saja, setelah ia masuk ke dalam pesantren, kesehatannya kurang membaik. Selama di pesantren, ia sering sakit-sakitan, sehingga pada suatu hari dia sakit parah dan dilarikan ke rumah sakit. Mulai dari kejadian itu, keluarganya menyarankan agar ia tidak kembali ke pesantren dahulu supaya kesehatannya kembali pulih.


Hal tersebut awalnya ditentang oleh Aisyah karena menurutnya, sakit adalah ujian untuk menghafal Al-Qur'an. Namun, karena kesehatan Aisyah semakin hari semakin menurun, pihak pesantren pun akhirnya memutuskan agar Aisyah diharuskan pulang. Dan selama di rumah, ia tetap bisa menghafal dan juga menyetorkan hafalannya kepada ustazah melalui WhatsApp.


Allah berkata lain, ketika Aisyah sedang menjalani pengobatan dari rumahnya, Aisyah dilamar oleh seorang syekh dari Mesir, telah hafal Al-Qur'an 30 juz dan telah mempunyai sanad. 


Awalnya Aisyah masih belum memberikan jawaban terhadap lamaran tersebut, sebab ia ingin melakukan salat istikharah.


Setelah ia melakukan salat istikharah, ia merasa mantap untuk menerima lamaran syekh tersebut. Aisyah pun menceritakan kepada keluarganya bahwa ia akan menerima lamaran tersebut dan keluarganya pun juga menyetujuinya, menurut mereka orang tersebut tepat untuk Aisyah.


Akhirnya Aisyah pun berhenti dari pesantren dan melanjutkan hafalannya yang dituntun langsung oleh suaminya.


Terimakasih telah membaca

TerPopuler

close