Catatan Rindu Orang Tua pada Anak di Pesantren -->

Catatan Rindu Orang Tua pada Anak di Pesantren

, September 27, 2021

 

Penulis bersama keluarganya/vnn.co.id.

Meski kini kau menjalani 

Kehidupan sehari-hari tanpa kami

Namun kami orang tuamu selalu bersamamu

Dalam kesenyapan doa


Teruntai dalam bingkai nada-nada tulus 

Melesat dalam pendakian lembah tinggi

Bernama harapan

 

Harapan kami tertumpu

Pada deburan ombak dan buih yang berbentuk Kalam dari para Pengasuh Pondok yang menghantam karang kebodohan dan kepapaan ilmu


Untuk segalanya saat ini telah kulabuhkan centang perentang hidupmu pada dermaga pondok pesantren


Hanya sebentuk puisi

Dari ketulusan hati

Untukmu anakku

Kujatuhkan tangis dan rinduku


--------------------------------------------------------------------------



Gedung Gelora Olah Raga (GOR) area terpadu Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah telah menjadi saksi atas bertaburnya senyawa rindu dari ratusan orang tua kepada anak-anak mereka yang mondok di pesantren tersebut.


Setelah hampir lima bulan lamanya para orang tua berjauhan dengan anak anak mereka yang rata rata masih berumur 11 atau 12 tahun untuk hidup sehari-hari di asrama pondok pesantren dengan status sebagi Santri, di mana sebelumnya setiap hari anak-anak tersebut hidup bersama orang tua sejak lahir, maka tentu menyisakan beragam cerita dan keceriaan, tetapi setelah anak berstatus sebagai santri, maka anak tersebut harus jauh dari orang tua.


Selama hampir lima bulan anak-anak tidak bisa dijenguk karena situasi pendemi Covid-19 yang belum tuntas, maka menjadi salah satu dasar pertimbangan bagi pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang untuk tidak memperkenankan orang tua membesuk anak-anaknya, sehingga hanya kebijakan berupa Video Call (VC) yang difasilitasi Pesantren 1 bulan sekali selama 10 menit untuk menghubungkan orang tua dan santri. Namun hal itu rasanya belum cukup bagi orang tua untuk meredakan dahaga rindu pada anak-anaknya.


Setelah memasuki lima bulan, maka otoritas ponpes memberikan iin bagi orang tua untuk menjenguk langsung anak-anaknya di pondok pesantren dengan ketentuan protokol kesehatan yang ketat, karena kebijakan itu, kami sebagai orang tua sangat memanfaatkan kesempatan tersebut, berhari-hari kami seperti menghitung hari karena tidak sabar rasanya untuk selekasnya bertemu dengan anak kami, demikian nampaknya anak-anak tentu menghitung hari detik demi detik menunggu kehadiran orang tuanya, maka kami sejak habis subuh sudah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar tidak telat untuk sampai dan bertemu dengan anak kami. Sesampainya di sana, ternyata sudah berjubel antre para orang tua yang memiliki hasrat dan perasaan rindu yang sama pada anak-anaknya.


Gedung GOR komplek terpadu API Tegalrejo, Magelang menjadi semacam sungai yang mengalirkan bah rindu orang tua pada anak yang bercampur dengan gelombang rindu anak pada orang tuanya, aliran deras membentuk ombak, rindu-rindu tersebut telah menyatu dalam senyawa kasih sayang yang terbingkai dalam titian samudra tak bertepi.


Merindukan seseorang adalah salah satu perasaan yang paling buruk dan tidak menyenangkan, itulah kiranya dialami oleh kami, para orang tua yang jauh dari anak terkasih. Nampaklah deretan orang tua dan santri berjubel memenuhi GOR, suasana sumpek dan panas telah terganti dengan suasana haru dan riang dengan lelehan air mata kebahagian. Anak-anak tidak terasa sudah nampak bertambah besar dalam  pertumbuhan fisiknya dan bertambah pula pengetahuan dan budi pekertinya, hal inilah yang kemudian menambah lengkap kebahagian kami sebagai orang tua.


Suasana GOR area Terpadu API Tegalrejo adalah lengkap tentang tautan batin kasih sayang antara orang tua dan anak yang tak bisa terputus meski mereka dipisahkan selama berbulan-bulan oleh jarak yang sangat jauh, pertautan rindu telah meleleh bersamaan dengan pertemuan tersebut, lelehan rasa rindu orang tua kepada anak adalah fitrah, karena orang tua adalah orang pertama yang memberikan cinta dan kasih sayang tulus dari lubuk hati, orang tua juga orang yang pertama kali mengenalkan dunia pada anaknya, dan mendidiknya agar memiliki masa depan yang cerah. Kasih sayang orang tua memang sepanjang masa sehingga tidak pernah terhitung seberapa besar cinta mereka kepada anak-anaknya, orang tua pun rela melakukan berbagai cara untuk melihat dan membuat sang buah hatinya bahagia


Bagi kami, memilih pilihan memondokkan anak dalam berbagai pertimbangan merupakan prinsip dan orientasi hidup, sehingga menitipkan anak di pesantren dengan kosekuensi berpisah karena sehari-hari tidak hidup dengan kami, maka hal tersebut bukanlah sebentuk ketegaan kami selaku orang tua, bukan kebencian kami selaku orang tua pada anak, tetapi hal tersebut tentu juga belum dapat dipahami secara penuh oleh anak, bisa jadi anak-anak tersebut justru berpikir kami, orang tuanya, tidak menyayangi atau tidak mencintainya. Namun, kami yakin kelak di kemudian hari, anak-anak itu akan memperoleh kesadaran jika apa yang kami lakukan, menitipkan anak-anak di Pesantren adalah untuk masa depan mereka sendiri.


Setelah anak-anak tersebut mampu menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren dan menjalani kehidupan di luar, maka baru dapat menyadari bahwa tidak ada rasa benci, justru sebaliknya. Ttulah kasih sayang sebenarnya orang tua pada anak, karena memondokkan anak adalah bentuk lain dari tanggung jawab kami selaku orang tua dalam memberikan pendidikan, selain dan selebihnya adalah bentuk nyata dari lantunnan doa kami agar anak-anak kami menjadi orang yang bermanfaat dunia maupun akhirat.


Memondokkan anak ke pesantren juga manifestasi rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan anak kepada kami, sehingga kami dapat disebut sebagai orang tua. Untuk itu, menitipkan anak ke pesantren merupakan ikhtiar kami memberikan fasilitas pintu masa depan dunia dan akhirat,  dengan menjadi santri, kami memiliki harapan agar anak-anak kamilah kelak yang mensalati jenazah kami, mau menggotong keranda kami, mau memandikan diri kami, mau membungkus kain kafan kami, dan mau secara istiqomah mendoakan kami. Bukankah ketika manusia meninggal dunia, maka terputus sudah amal jariahnya kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan doa anak yang sholeh. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang tiga amal yang tidak terputus pahalanya meskipun sudah wafat


Kami mempercayakan pendidikan anak kami di Pondok API Tegalrejo, pesantren legendaris yang didirikan oleh KH. Chudlori pada tanggal 15 September 1944 yang kemudian masyhur karena sangat menjaga sanad keilmuan dan dalam perkembanganya mampu memberikan sumbangsih yang besar terhadap kerukukanan umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan tradisional Pondok API Tegalrejo salah satunya yang terus berkembang menjadi suatu lembaga pendidikan yang menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, menunjukkan bahwa peran pesantren sangat besar dalam kehidupan masyarakat


Semula, pesantren-pesantren di Indonesia hanya menerima santri putra saja untuk belajar agama, tetapi pada perkembangan selanjutnya ada kebutuhan dari masyarakat untuk memberikan pendidikan agama yang memadai bagi putri-putri mereka, sehingga saat ini banyak pondok pesantren yang mendidik santri putra dan santri putri, termasuk adalah Ponpes API Tegalrejo yang saat ini diasuh oleh KH. Yusuf Khudlori dan para Dzurriyah KH. Khudori lainnya.


Santri adalah murid atau siswa yang belajar di pesantren, terdiri dari santri putra dan santri putri, yang berstatus sebagai santri mukim atau santri kalong. Di Ponpes API, santri mukim ialah santri yang belajar dan menetap atau mondok di pesantren, sedangkan santri kalong ialah santri yang belajar di pesantren tetapi tidak menetap atau tinggal di pondok pesantren. Ponpes API Tegalrejo memisahkan pondok dan kelas untuk santri putra dengan santri putri. Santri-santri yang belajar di pesantren berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, bahkan ada pesantren yang santrinya berasal dari luar Indonesia dan dari berbagai tingkat sosial.


----------------------------------------


* Catatan ringan dari Reportase ketika kali pertama membesuk anak di Ponpes API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah

Minggu, 25 September 2021


Kontributor: Sofyan Mohammad**

Editor: Mega


** Penulis adalah orang tua salah satu santri di Ponpes API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah yang sehari hari tinggal di Bantaran Kali Serang. Susukan, Kab. Semarang.

TerPopuler

close