Cerpen | Kupanggil Kau, San -->

Cerpen | Kupanggil Kau, San

, Agustus 22, 2021

 

Ilustrasi: Ekky's Corner.

Oleh: Musaafiroh El Uluum


Baru saja aku selesai bersih-bersih di teras rumah. Setelah meletakkan sapu ijuk, ekor mataku menangkap sesosok bayangan di seberang jalan. Walaupun mataku minus, aku masih bisa menebak bahwa orang itu tersenyum sembari melambaikan tangan kepadaku. Aku sungguh tekejut saat ia berlari menghampiri lalu menarik tanganku kuat-kuat. Untung saja aku dalam keadaan rapi (berbaju panjang lengkap dengan kerudungnya). Ingin menolak, tetapi tak kuasa. Aku pun membiarkannya membawaku, entah ke mana.


Kami terus berjalan memasuki gang-gang sempit dan melewati pekarangan rumah orang-orang. Mau ke mana ini. Lirihku, dan hanya terdengar oleh diriku sendiri. Aku tak memberontak. Tak banyak cakap dan gerak, justru lelaki itu tampak riang berceloteh tanpa aku tahu maksudnya sembari memintaku melajukan langkah. Agar cepat sampai, pikirku.


Ia mengisyaratkan sesuatu yang dalam, entah apa. Tangannya berkali-kali mengibas agar aku mempercepat langkahku, lagi, dan lagi. Kami berlari, menerjang pematangan-pematangan yang segar buah dan sayurnya, hingga akhirnya sampai di sebuah daratan penuh liat. Sampah-sampah yang tercecer dan menggunung, sesekali terbawa arus sungai menjadi pemandangan yang mengerikan di sini. Tak ada yang tahu, atau memang tak acuh, dan tak pernah lagi ingin mngacuhkan. Jiwaku tak henti dari asumsi-asumsi sendiri.


Sepersekian detik, laki-laki itu menarik lagi tanganku, membawaku ke tempat yang agak dalam. Lembab, tak ada penerangan, rasanya ingin mual saat indra penciumanku merasakan aroma yang menusuk. Kulihat benda terapung-apung di atas aliran air kecil yang membelah jalan kami sambil sesekali terantuk-antuk bebatuan.


“Aaaahhh ....” Seketika aku berteriak kala seekor binatang bercericit berlarian di dekat kaki. Aku bergidik geli, baru kali ini kulitku menyentuh tubuh lunak hewan yang identik dikaitkan dengan kejorokan itu.


“San, kita mau ke mana, sih?” protesku tiba-tiba pada laki-laki itu dengan sebutan sekenanya. Langkahnya terhenti, lantas berbalik menatapku. San? Mungkin yang kumaksud adalah insan. Ya, sebutan lain dari manusia. Dalam pelajaran keagamaan Islam, seseorang digambarkan dengan fulan. Tapi, ya sudahlah. Sepertinya hal ini terlalu tak berguna untuk kupikirkan matang-matang. Karena pemuda itu segera mengajakku keluar dari lubang panjang yang memeningkan ini.


Kami pun tiba di tempat yang jauh mata memandang, hanya ilalang yang subur mendiami dan menutup sebagian besar daratannya.


Lelaki itu terdiam, memicingkan mata, menengok kanan-kiri, sejurus kemudian matanya berbinar seraya berlari ke arah tenggara tanpa aba-aba. Aku pun membuntutinya. Agak kewalahan memang, tetapi aku terlanjur diserang rasa penasaran mendalam. Setelah hampir setengah jam berlarian, menerabas jalanan yang tak mulus, lalu sedikit menuruni tanah yang melandai, akhirnya aku menemukan lelaki itu berjongkok. Aku mendekatinya. Ia menoleh lantas tesenyum, lekas berdiri lalu menyuruhku datang seraya berkata,


“Mhakk ... mhakk ....” Sembari menunjuk ke sebuah gundukan.


Terlihat beberapa barang rongsokan serta sampah-sampah plastik di sisi kanan dan kirinya. Aku masih belum mengerti. Kulirik lelaki yang masih berdiri di sampingku, tangannya tak sebersih tadi. Rupanya dia yang menyisihkan kotoran-kotoran itu. pantas saja ia tak lagi menarik-narikku. Takut kotor pikirnya. Kukembalikan pandangan ke arah gundukan di depanku. Seketika jantungku berdebam keras, serasa ada yang meninju di sana. Dadaku sesak, jalur masuknya udara ke tenggorokan seperti dicekik. Pelupuk mataku memanas saat pupilku jatuh ke sebuah lempengan kayu di ujung gundukan itu.


Baca Juga: Cerbung | Mawar Hitam | Episode 8


Tanpa kusadari, lututku sudah terkulai begitu saja di atas tanah. Miris, hatiku tercabik-cabik melihat pusara yang terlihat hanya sebuah ‘urugan lemah’ tak berguna. Orang yang diemayamkan di dalamnya adalah malaikat tanpa sayap. Namun, apalah arti rumah terakhir baginya. Apa arti tanah yang menimbun jasadnya. Lalu, apa arti layak untuk anak sesuci pemuda ini. Agaknya, semua dunia hanyalah tentang pengabdian dan bakti kepada ibunya.


# # # #


“Alhi.” Seorang pemuda memperkenalkan dirinya dengan cara berbicara yang tak begitu fasih.


Aku tersenyum lantas menyempilkan selembar uang lima ribu perak pada sakunya, sebagi upah karena telah membantu memarkirkan mobiku.


Ia berprofesi jukir tanpa diminta dan ditolak. Saat itu, cacing-cacingku meminta jatah setengah hari, setelah menyelesaikan beberapa urusan di lembaga kemanusiaan, aku mampir ke sebuah warung makan yang kebetulan sepi pembeli. Tempatnya tak begitu luas, akan tetapi seorang pemuda bersiap tegap dengan rompinya dan meniupi peluit untuk mengarahkanku menempatkan mobil. Senyumku terulum saat ia menganggukkan kepala sebagai sambutan selamat datang.


Satu dua pengunjung silih berdatangan. Sedang aku masih saja terbuai di tempat ini, sebab kehangatan yang mengalir begitu saja dari ibu penjaganya. Sesekali aku tergelak menengok tingkah pemuda itu kepada para pelanggannnya, lalu disusul oleh tawa orang-orang yang diajaknya berbicara. Tak pelak, lirikan aneh juga datang dari orang-orang yang kebetulan lewat depan warung.


“Dia anakku,” ujar ibu penjaga warung. Nampaknya, dari tadi ia mengetahui bahwa aku tengah memperhatikan pemuda itu.


“Sudah begitu sejak lahir,” tambahnya sembari mengelap-elap gelas dan piring yang habis dicuci.


“Tapi anaknya pintar, Mbak. Gak rewel, gak banyak maunya. Dari kecil suka cari duit, bantuin saya.” Ibu itu menggebu-gebu dalam bertutur, sambil sesekali memperlihatkan barisan gigi tanggal di ujungnya.


“Alhamdulillah njih, Bu,” sambungku mencoba menyeimbangkan kebungahannya.


Setelah malam itu, aku tak lagi pernah menemui keluarga kecil itu.


Ya, sekarang aku ingat. Pemuda ini adalah pemuda yang sama, kutemui beberapa tahun lamanya. Binar air muka itu tetap sama. Sayang, ia tertutup oleh rambut kucai yang tumbuh seenaknya, sebab tiada lagi tangan penuh kasih yang menyentuhnya.


Ah, senyum yang masih sama. Ceria yang masih sama. Aku tahu, kenapa Tuhan menggiring lidahku memanggilmu, San.


Karena kau sun-Nya. Matahari yang tak pernah redup sekalipun dunia mengombang-ambingmu dengan kalapnya.


“Pukkk.” Sebuah buntalan plastik dilemparkan begitu saja, jatuh tepat di atas pusara yang baru saja dibersihkan dari sampah-sampah. Ah, rupanya kami sedang di bawah jembatan.

 

Gresik, 11/8/21 9:47

TerPopuler

close